ATUM Institute : Histeria Islamis Dan Nasionalis Pada PUAN-YIM


 ATUM Institute : Histeria Islamis Dan Nasionalis Pada PUAN-YIM


Oleh : Abdullah Amas (Direktur Eksekutif ATUM Institute)


Genderang histeria menggegap gempita di sejumlah sosmed dan grup-grup WA atas kemungkinan berduetnya Puan dan Yusril di Pemilu Presiden 2024.


Puan. Cucu Soekarno dan Yusril adalah pewaris pemikiran M. Natsir. Duet Banteng dan Bulan Bintang ini mirip Kerja besar Soekarno dan M.Natsir.


Yusril amat rajin ke basis NU dan Muhammadiyah. Pernah ke Sidogiri pesantren kaum NU. Sarungan. Diterima oleh kyai besar disana. Para santri pun antusias. PBB partainya menang di Pilgub Jatim mengantarkan Khofifah dan raihan suara legislatif yang keren di basis Islam seperti NU. PBB didirikan oleh perwakilan puluhan ormas Islam. Amat representatif Yusril sebagai Cawapres perwakilan ormas Muslim.


Puan dikenal di basis marhaen. Cucunya petinggi Muhammadiyah karena Soekarno dan Fatmawati sama dari Muhammadiyah. Bapaknya Sumbar pula Taufik Kiemas.


Merah perkasa di Jawa. Koalisi PDIP dan PBB bakal bertaji karena Jokowi berjanji mendukung Yusril bila maju Pilpres. Ini koalisi Banteng yang bersinar seperti Bulan Dan Bintang. Ini koalisi disambut heroik kaum nasionalis dan islamis lebih menggema dibanding bahagianya kaum nasionalis dan islamis kala Gus Dur jadi presiden.


Pesta demokrasi menjadi pesta persatuan bila merah dan hijau bersatu padu. Selendang kebhinekaan dan permadani keummatan menjadi pengobar rindu akan NKRI yang damai. Ibu Megawati bisa tenang karena selanjutnya NKRI dalam genggaman misi integral NKRI ala M.Natsir yang melindungi segenap tumpah darah sekaligus piawai melakukan konsolidasi elite. Pekik Merdeka dan Allahuakbar bersatu agar NKRI maju 

Restu Megawati Pada Yusril


Adanya sejumlah lembaga negara dan juga UU seperti KPK, UU MK, UU PPTAK, Perpu Terorisme, UU Kekuasaan, UU Kejaksaan, UU Kepolisian, UU TNI, UU Kepolisian Negara, UU Notaris, UU Advokat dan sekitar 100 UU lain yang diselesaikan Yusril  Ihza Mahendra termasuk Pemisahan TNI dan POLRI, Pemisahan Kekuasaan Kehakiman dan deretan produk hukum yang kokoh dan lainnya yang banyak dilakukan oleh Megawati ketika jadi Presiden dan Yusril jadi Menteri Hukum dan HAM merupakan dwitunggal terbaik Bangsa ini pasca Reformasi dalam mereformasi Hukum. Bahkan Megawati ketika jadi Presiden memberikan Bintang Bhayangkara Utama pada Yusril atas jasa-jasanya membangun hukum, ketertiban dan kepolisian


Reformasi Hukum di negeri ini : kepastian, keadilan dan penegakan hukum merupakan agenda yang memerlukan ahli tata negara yang teruji dan punya ambisi kuat mereformasi hukum di negeri ini.


Megawati sangat kokoh pada terjaganya Konstitusi dan Reformasi Hukum. Megawati lah Presiden yang menjaga aktivis Islam dari gangguan Internasional seperti yang terjadi pada Abu Bakar Ba'asyir yang tetap bebas dimasa pemerintahan Megawati. Megawati berani memveto desakan Bush Presiden Amerika ketika itu.


Mega, bergerak di PDI mulai jadi pengurus PDI DKI lalu menjadi Ketua Umum PDI Pro Mega yang kemudian berubah jadi PDI-Perjuangan. Menyadari betul bahwa masa Reformasi kedepan memerlukan sejumlah keteguhan pada Demokrasi, HAM dan Konstitusi. Cinta Megawati pada semua itu ditakdirkan sosok Yusril Ihza Mahendra yang kemudian mengimplementasikan visi Megawati sesuai kapasitasnya saat itu yaitu Menteri Hukum Dan HAM.


Jalan Terus Mega-Yusril


Memasuki Pilpres 2024 sejatinya Megawati dan Yusril yang sudah satu hati tentu lebih mudah Megawati memilih Yusril yang satu chemistry dengannya.


Sama-Sama Tidak Ambisi Jabatan


Megawati dan Yusril tentu saja lebih terasa dekat karena kesamaan psikologis sama-sama tidak ambisi jabatan. Megawati misalkan sabar tidak menempatkan kader PDIP dikabinet tatkala bukan PDIP yang berkuasa. Padahal godaan sangatlah besar.


Begitu juga Yusril terlalu sering menolak berbagai jabatan mulai menteri sampai jabatan penting lain di negeri ini. Mega dan Yusril sama-sama punya prinsip


Kini agenda besar mereformasi Hukum di negeri ini perlu diteruskan. Megawati Insya Allah meletakkan amanah itu pada Duet Puan Maharani-Yusril Ihza Mahendra

Komentar