Basis Suara Gerindra-PKB Pada Pilpres 2024 (Analisa ATUM Institute)
BASIS SUARA KOALISI GERINDRA-PKB PADA PILPRES 2024
Oleh: ATUM (Analisa Teruji Madani ) Institute
Partai Gerindra adalah partai besutan langsung dari Prabowo Subianto yang saat ini telah menjelma menjadi partai terbesar ke 2 setelah PDIP, dengan perolehan suara pada pemilu 2019 mencapai 12,57 persen suara sah nasional.
Kiprah politik Gerindra dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang memposisikan diri sebagai partai diluar pemerintahan. Namun di tahun 2019 Gerindra memilih untuk bergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi pada kabinet Indonesia maju.
Sedangkan PKB sebagai salah satu partai politik yang di deklarasikan oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang pada pemilu 2019 PKB berhasil bangkit dari keterpurukan dengan perolehan 9,69 persen suara sah nasional.
PKB adalah partai yang selama ini dikenal memilih untuk eksis berada dalam gerbong koalisi pemerintah yang sedang berkuasa.
Basis Suara Pemilih PKB - NU
Meskipun NU secara kelembagaan tidak berpolitik praktis namun dalam perjalanannya selalu menjadi rebutan para kontestan pilpres.
Untuk melihat seberapa besar jumlah yang sebenarnya suara warga NU, sehingga suaranya begitu seksi untuk diperebutkan oleh setiap kontestan capres dan cawapres.
Kiai Gus Dur sendiri dulu pernah berseloroh kalau jumlah warga NU itu adalah 50% dari jumlah penduduk Indonesia Nah! ..jika dihitung kasar dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, maka jumlah warga NU tidak kurang dari 130jt orang.
Berdasarkan catatan hasil survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center pada tahun 2018, menyebutkan bahwa ada tiga karakteristik dalam melihat NU :
Pertama dari sisi ritual, mayoritas masyarakat jika ditanya mengenai ritual keagamaan maka 80% warga mengikuti ritual gaya NU.
Kedua, pengakuan warga masyarakat, 60% memilik kedekatan dengan ormas NU.
Ketiga, ketika ditanyakan kepada warga masyarakat ikut ormas mana, 40% mengaku menjadi anggota ormas NU.
Dari gambaran hasil research Alvara Center tersebut menunjukan kalau suara pemilih NU tidak pernah bulat karena faktor jumlahnya yang begitu besar sehingga semua kontestan berebut kue suara dari warga NU.
Dengan modal history kedekatannya PKB dengan NU, ditambah segudang pengalaman Prabowo sebagai capres sebelumnya, maka peluang besar untuk meraih kemenangan pada pilpres 2024 sangat terbuka lebar.
Terlebih lagi Gerindra-PKB tergolong partai yang kepemimpinannya terkontrol secara terpusat sehingga keputusan kedua partai tersebut untuk bersatu dalam satu gerbong koalisi hampir dipastikan tidak akan memunculkan riak riak politik dari kader internal partainya.
Kondisi ini akan sangat jauh berbeda pada partai semisal Golkar, PAN, PKS atau PPP yang tidak memiliki tokoh sentral sebagai pengendali beragam faksi yang muncul di internal partainya.
Namun demikian peluang menangnya capres dan cawapres yang diusung oleh koalisi Gerindra- PKB akan tergantung pula pada lawan yg akan di hadapinya pada pilpres 2024 mendatang.
Jika dilihat dari berbagai sisi sumber pemberitaan yang ada, pandangan masyarakat umum dan dari hasil beberapa lembaga survei nenunjukan bahwa pasangan Prabowo dan cak Imin merupakan pasangan yang ideal dan moncreng untuk mendulang kemenangan pada pilpres 2024 mendatang.
Oleh; Atum Burhanudin.SH
Pengamat Publik di ATUM ( Analisa Teruji Madani ) Institute


Komentar
Posting Komentar