ATUM Institute : SRLC Turut Bicara Soal G20


 KTT G20 di Bali idealnya menurut SRLC (Suhardi Somomoeljoni Research & Learning Centre )mampu menuangkan pemikiran antar bangsa seperti merumuskan solusi hutang luar negeri bagi negara negara anggota G20 sehingga mampu menciptakan harmonisasi penyelesaian hutang luar negeri yang saling menguntungkan kedua belah pihak jika hal tersebut tidak dijadikan sebagai bagian dari agenda maka sungguh sangat disayangkan sebab negara yang masih tergolong lemah jika KTT G20 tidak merumuskan dengan memberi solusi yang bersifat solutif maka dapat diprediksi terjebak dalam hutang yang sangat sulit diperkirakan seperti apa akibat atau dampak yang akan terjadi kelak.

"Seperti Indonesia misalkan meskipun Sumber daya alam melimpah sehingga pengelolaan kekayaan mineral Indonesia secara signifikan dapat menghasilkan sumber pendapatan negara yang besar namun jika konsep pengelolaan SDA tidak dipersepsi secara konseptual dalam perspektif penyelesaian hutang luar negeri maka secara sistemik sulit dilakukan kontroling apakah SDA yang melimpah tersebut secara signifikan dapat diukur secara ekonomi untuk dapat digunakan sebagai solusi penyelesaian hutang luar negeri"ujar Dr H. Suhardi Somomoeljono dari SRLC.

Lanjutnya, Seharusnya negara dalam Penjelasan UUD 45 sebagaimana dapat dibaca naskah aslinya sehingga salah satu tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud sekaligus sebagai implementasi dari Pancasila butir kelima yang merumuskan perlunya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
KTT G20 Di Bali, Rabu (16-11-2022) menurut Suhardi Somomoeljono dari Suhardi Somomoeljono Research & Learninh Centre harus mampu merumuskan solusi hutang  luar negeri G20 


"Kita akui bahwa Indonesia dalam mengawal KTT G20 di Bali harus diakui sukses karena mampu menorehkan hal-hal yang penting dalam kehidupan ekonomi, sosial,politik secara makro namun KTT G20 akan lebih bermakna jika dimaknai dengan mengagendakan bagaimana mencari solusi yang sebaik-baiknya mengatasi utang luar negeri khususnya bagi negara-negara anggota KTT"ujar Suhardi


Sementara itu Direktur Eksekutif ATUM Institute (Analisa Teruji Madani Institute) Abdullah Amas turut sependapat dengan pendapat SRLC.


"Sebab kalau tak signifikan untungnya bagi Indonesia maka sama saja G20 cuma jadi panggung China dan Biden AS, itu artinya peran Jokowi dan Pemerintah hanya sebatas even organizer"tegas Amas

Komentar

Postingan Populer