ATUM Institute: Permainan Sisi Gelapnya Dunia
ATUM Institute: Permainan Sisi Gelapnya Dunia
Author by: Atum Burhanudin.SH
Jika disatukan secara umum pendapat dari para ahli ekonomi dunia saat ini, yang menyatakan " sepertinya tidak hanya resesi yang akan menggerogoti pasar saham di tahun 2023, kenaikan suku bunga, inflasi yang tinggi serta perang Rusia- Ukraina diperkirakan akan membuat dunia semakin gelap dan runyem".
Terbaru Bank of America (BofA) memperkirakan AS akan mengalami resesi di kuartal I-2023. Bahkan bursa saham AS (Wall Street) diperkirakan akan merosot tajam, indeks S&P 500 diramal akan ambrol 24% dari level saat ini.
Kemudian tak lupa masalahnya akan semakin runyam seandainya inflasi tidak turun meski resesi sudah terjadi, hal ini disebut reflasi. Ada risiko stagflasi, pertumbuhannya stuck turun namun inflasinya tinggi. Tutur Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia pada saat menghadiri Rapat Kerja dengan komisi XI DPR (21/12/2022).
" Stategi apa yang bisa mengeluarkan kita dari resesi.......?
Kekuatan apa yang bisa membawa kita keluar.......? Tidak ada. Kita akan mengalami resesi bertahun-tahun," kata Michael Burry investor ternama dalam cuitannya di Twitter, sebagaimana dilansir Business Insider.
Tiongkok- Indonesia
Sejak tahun 1989 rata-rata PDB China mencapai sebesar 9,05%. Namun sast ini China sedang mengalami masa ekonomi terkelam dalam hampir lima dekade terakhir. Kepala ekonomi China di Nomura, Ting Lu, bahkan memangkas proyeksi PDB China 2022 menjadi 2,8% saja. Berdasarkan hasil survei terbaru dari Reuters menunjukan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2%, jauh dibawah target pemerintah China itu sendiri yakni 5,5%. Ini artinya menjadi masa ekonomi "Tergelap" bagi Xi Jinping yang telah menjabat Presiden China sejak 2013 lalu.
Presiden Jokowi berulang kali menegaskan " Hati-hati (ekspor) tahun depan bisa turun, karena problem di Tiongkok yang belum selesai, " ujar Presiden Jokowi pada saat berpidato di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia. (30/11/2022).
Ekspor Indonesia saat ini memang sedang moncer, dimana neraca perdagangan mencatat surplus 30 bulan beruntun akibat tingginya harga komoditas. Eksport ke China nilainya sepanjang Januari- Oktober 2022 sebesar US$ 51,3 miliar dan berkontribusi 22,3% dari total Ekspor. Namun masalahnya kini ekonomi China tidak hanya melambat di tahun 2022, tetapi dalam jangka panjang, PDB-nya diperkirakan tidak lagi bisa tumbuh tinggi.
Oxford Economics memprediksi pada dekade ini rata-rata PDB China sebesar 4,5% saja.


Komentar
Posting Komentar