Doa Menyentuh Kyai Keturunan Syaikhona Cholil Pada Helper Muhammad Qasim

 


Doa Menyentuh Keturunan Syaikhona Cholil Pada Helper Muhammad Qasim


"Semoga segera menyebar dan menjadi pencerahan bagi ummat Rosululloh 'alaihissholatu wassalam" demikian doa Kyai keturunan Syeikhona Cholil yaitu K.H Toha Kholili 


Profil KH. Toha Kholili


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha al-Kholiliyah, Bangkalan:


PEWARIS DAKWAH SYAIKHONA CHOLIL



"Jejak ulama terdahulu yang patut diteladani. Menjadi santri sejumlah tokoh lintas negara dan menjembatani sekat-sekat yang membelenggu umat."



Warga Pulau Madura sering dipersepsikan negatif berwatak kasar, keras kepala dan tukang tipu. Namun, siapapun akan berubah pikiran, apabila bertemu dan berdialog langsung dengan tokoh muda yang satu ini. Tutur katanya kalem, meski penuh ketegasan. Wawasannya luas karena banyak referensi dalam dan luar negeri yang dilahapnya, serta siap menerima pendapat berbeda, asalkan ada landasannya.



“Orang Madura bicara blak-blakan, apa adanya, walaupun bagi sebagian orang dipandang tidak sopan. Mereka tidak bisa bicara halus, padahal menyembunyikan kebenaran,” ujar KH Toha Kholili. Dari namanya, orang segera teringat dengan tokoh legendaris Syaikhona Cholil dari Bangkalan. Kiai Cholil (lahir sekitar 1830-an) adalah pelopor dakwah di Madura yang memiliki murid tersebar di seluruh Jawa Timur. Kiai Cholil punya seorang menantu, Kiai Muntaha, yang mewarisi pesantren di Jangkibuan. Dari garis keturunan Kiai Muntaha inilah nasab Kiai Toha muda.



Meskipun tergolong generasi keempat dari garis perempuan Bani Cholil, posisi Toha sangat penting. Ia mewarisi surat-surat, manuskrip dan buku-buku yang dulu dipergunakan Kiai Cholil untuk mendidik murid-muridnya di pesantren sederhana. Bahkan, “Saya mengoleksi sorban yang beliau pakai serta perlengkapan shalat dan sarana belajarnya. Semua itu masih milik keluarga, belum bisa diperlihatkan kepada publik,” ungkap Kiai Toha. Ia tidak ingin bila sebagian anggota masyarakat ada yang mengkeramatkan benda milik tokoh spiritual di masa lalu itu. Tapi, ia setuju apabila pemerintah daerah atau lembaga manapun yang berkhidmat kepada dakwah ingin mendirikan semacam museum perjuangan Kiai Cholil.



Ia mengetahui langsung segala sepak terjang Kiai Cholil dari ayahnya, sedangnyaayahnya (KH Kholili) menimba informasi langsung dari Kiai Muntaha. Kepada sang menantu inilah Kiai Cholil acap menyerahkan tanggung-jawab dan otoritas dakwah. Salah satunya, tatkala Hasyim Asy’ari pada tahun 1925 bersama 28 kiai dari Tanah Jawa datang ke Bangkalan untuk meminta restu bagi pendirian Nahdlatul Ulama, Kiai Cholil tak bisa menemui mereka. Lalu, Kiai Muntaha disuruh menyambut.



Sebelumnya, pada tahun 1924, Kiai Cholil telah mengutus santri seniornya, As’ad Syamsul Arifin (waktu berusia 27 tahun), untuk pergi ke Tebu Ireng membawa pesan bagi Kiai Hasyim. Tak tanggung-tanggung, sampai dua kali pesan itu dikirimkan. Pesan pertama berupa tongkat dengan kutipan ayat al-Qur’an (Surat Thaha, ayat 17-23). Surat itu bercerita tentang Nabi Musa dianugerahi Allah tongkat mukjizat untuk melawan tirani Fir’aun. Kiai Hasyim bergetar jiwanya, ketika dibacakan ayat itu, sambil menyaksikan santri Kiai Cholil yang datang dengan kelelahan, karena konon harus menempuh perjalanan Bangkalan-Jombang dengan jalan kaki. Pada kali kedua, santri As’ad diminta mengenakan tasbih besar di lehernya, sambil membaca wirid: “Ya Jabbar, ya Qohhar” sebanyak tiga kali, agar di sampaikan kepada Kiai Hasyim.



Karena penasaran dengan pesan tersembunyi dari Kiai Cholil, maka Kiai Hasyim dan kawan-kawannya mendatangi langsung kediaman murid Kiai Nawawi Banten itu di Bangkalan. Ternyata yang harus menemui mereka adalah Kiai Muntaha, kakek dari Kiai Toha.  di Surabaya, tanggal 31 Desember 1926. “Tapi, Kiai Cholil sebenarnya tidak mendorong terjadinya pengelompokan di tubuh umat, apalagi ta’ashub pada organisasi. Karena saat itu sudah berdiri organisasi Muhammadiyah,” tutur Kiai Toha.


Penilaian itu punya bukti kuat karena Kiai Cholil juga sering berkomunikasi dengan KH Ahmad Dahlan, yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah (1912). Bukan hanya itu, Kiai Cholil yang nyentrik cara pengajarannya itu ternyata berhubungan rutin dengan H. Oemar Said Tjokroaminoto, yang tercatat sebagai pemuka Syarikat Islam. Betapa luasnya pengaruh Kiai Cholil bisa terlihat dari daftar santrinya yang tersebar di berbagai daerah dengan model pesantren beragam.



Karena itu, Kiai Toha prihatin sekali dengan sikap sebagian warga Nahdliyin yang agak tertutup, terutama di tingkat akar rumput. “Mereka sangat loyal terhadap kiainya, bisa dikatakan ada gejala ta’ashub, bila tidak diluruskan. Sehingga begitu ada kelompok, paham, aliran, organisasi, atau partai baru,jika tidak disetujui para kiainya, maka mereka khawatir sekali dengan sesuatu yang baru tersebut,” Kiai Toha mencontohkan. Padahal, sikap dan pemikiran Kiai Cholil sangat terbuka. Kecuali belajar nahwu-sharaf dari Kiai Nawawi Bantani, Kiai Cholil juga tercatat sebagai murid Syekh Khalid al-Misri (dari Mesir), Ali as-Syami (Suriah), dan As-Syinqithi dari India. Ulama terdahulu sudah go globaltanpa kehilangan jati diri. Yang jelas, tak ada ulama yang menghalalkan fanatisme kelompok.

Komentar

Postingan Populer