Pernyataan Blunder Bela Bahlil Meski Salah, Eks Ketum HMI ARH Dinilai 'Amatiran' Baca Arus Publik
Pernyataan kontroversial Mantan Ketua Umum PB HMI, Arief Rosyid Hasan (ARH), yang menyatakan kesiapannya membela Bahlil Lahadalia meski dalam posisi bersalah, menuai kritik pedas. Langkah ARH ini dinilai bukan sebagai bentuk loyalitas yang cerdas, melainkan sebuah blunder politik vulgar yang bisa merusak citra internal Partai Golkar.
1. Etika vs. Loyalitas: "Terlalu Telanjang"
Founder Abdullah Amas Strategic, Abdullah Amas, menyayangkan pilihan kata yang digunakan ARH. Menurutnya, meski dalam dunia politik loyalitas adalah mata uang utama, mengungkapkannya secara eksplisit ke publik tanpa filter moral adalah kesalahan taktis.
"Secara personal, ARH adalah sosok dengan rekam jejak moral yang bagus jika kita baca literaturnya. Namun, pernyataannya soal Bahlil ini sangat vulgar. Sebagai mantan pemimpin organisasi mahasiswa terbesar (HMI), dia harusnya tahu cara 'mengukur ombak'. Rakyat menonton, dan pernyataan seperti itu sama sekali tidak menaikkan elektabilitas maupun simpati," tegas Amas.
2. Ancaman Bagi Posisi Bahlil di Golkar
Kritik ini bukan sekadar soal kata-kata, melainkan dampaknya terhadap peta kekuatan Bahlil di Golkar. Sebagai sosok yang dianggap "pengawal" kesuksesan Bahlil memimpin partai beringin, kecerobohan komunikasi ARH dikhawatirkan justru menjadi beban bagi Bahlil.
Jika tim pendukung di lingkaran inti tidak mampu berkomunikasi dengan hati-hati, resistensi dari kader Golkar senior maupun publik luas justru akan meningkat.
3. Perbandingan dengan Tokoh Senior HMI
Amas membandingkan gaya komunikasi ARH dengan para pendahulunya di HMI yang kini juga berkiprah di kancah nasional. Ia menyebut nama-nama seperti Arip Musthopa dan Fadjrie yang dinilai jauh lebih tenang dan penuh perhitungan dalam melempar narasi ke ruang publik.
"Ada standar 'kekaleman' yang harusnya dijaga. Politik itu seni kemungkinan, tapi kalau sudah menyatakan bela yang salah secara terbuka, itu namanya menantang logika publik," tambah Amas.
Analisis Singkat: Pernyataan ARH menunjukkan adanya pergeseran gaya aktivis ke gaya politisi praktis yang terlalu agresif. Dalam konteks Golkar yang penuh dengan politisi teknokrat dan senior, gaya "pasang badan tanpa syarat" ini berisiko menjadi bumerang yang justru melemahkan posisi tawar Bahlil Lahadalia di masa depan.
Amas mengapresiasi kiprah ARH yang aktif merawat perkaderan HMI meski sudah bukan Ketum lagi. Statment dan berbagai akrobat politiknya termasuk membawa nama HMI di Golkar menurutnya merupakan ikhtiar yang berhasil di mata Bahlil dan kacamata Politik. "Tapi kalau coba-coba bikin pernyataan blunder kita khawatir dan kasihan ARH, semoga ARH membawa kebaikan bagi Golkar ditengah kerja-kerja kader Golkar yang lain"tandas Amas



Komentar
Posting Komentar